(belum berjudul, mungkin:) Titik Pautan Nusantara

BAB I Hari ini
“Tidak usah bertele-tele, cepat katakan saja..”
“Sabar, vriend. Semua pasti akan aku ceritakan, tapi biarlah aku menghela napas sebentar… di sini, hawa sepertinya mulai panas… sepertinya kota ini memang sudah berubah… tidak sedingin jaman kita masih sekolah dulu…”
“Brengsek kau! Kau sudah membuat kami lelah menunggumu, sobat! Sejak kemarin sore, kau menjanjikan cerita itu kepada kami… kami ini sudah keburu hilang kesabaran, sobat!”
Oke, oke, niet overhaast, vriend… sepertinya aku tidak bisa berbicara banyak dengan kalian… cerita itu pun belum pernah aku dengar,”
“Apa?! Lalu buat apa kau mengajak kami kemari?”
“Aku akan memperkenalkan kalian dengan orang yang lebih tahu… sisa kejujuran masa lalu yang terpendam dalam kemunafikan kolonialisme… jejak fakta bahwa Belanda menjajah untuk berlindung pada bangsa ini…”
“…”
Keempat anak itu kebingungan mendengarkan apa yang baru sajapemuda itu lontarkan. Belanda menjajah untuk belindung pada Indonesia?!? Ini adalah cerita konyol…. Tapi bagaimana juga pemuda ini tidak mungkin jauh-jauh berkunjung ke kota ini, mengumpulkan keempat sahabatnya hanya untuk omong kosong belaka. Setelah kota Malang ini, mereka akan segera bertolak menuju Surabaya, kota para pahlawan… mengunjungi orang yang dijanjikan…
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembukaan...