Pembukaan...

Sebuah kantor perdangangan yang terletak jauh di benua peradaban kuno, memiliki arsitektur yang megah dan mewah, terdiri dari kolom-kolom tinggi dan berukir indah. Setiap lengkungan pada geometri baloknya menjadi karya seni. Mendefinisikan keagungan penghuninya. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan dengan cat putih, dengan jam dentang besar yang menunjukkan pukul sebelas malam dan perabotan kayu berukir. Di dekat jendela besar terdapat sebuah meja antik dengan beberapa tumpukan kertas di atasnya, lengkap dengan pena dan tinta, juga kalender kecil yang menunjukkan tahun 1510. Dalam sebuah ruangan di sana, dua orang sahabat bercengkrama dengan penuh gairah akan rasa penasaran. Maklum, salah satu di antaranya telah berpetualang jauh untuk menelusuri kabar burung para pedagang timur.
“Apa yang kau dapat?"
“Kemenangan! Mereka tidak akan lebih tertarik daripada ini…”
“Jangan asal! Aku tidak mau menemukan tanah emas yang salah!!!”
“Hm, kalau begitu periksalah ini sendiri…”
Dia melemparkan buku kecil pada sahabatnya, seketika sahabatnya langsung terhening ketika membaca isi sebuah buku catatan kantong bersampul kulit itu.
“Kau bercanda…”
“Tidak. Inilah tanah emas yang kita cari. Titik peradaban lampau yang konon hanya mitos dan lagenda saja…” Sementara sahabatnya masih duduk tercengang, ia mulai menyalakan rokok pipanya dan tersenyum dengan santai… “Semua itu benar…  tanah emas adalah nyata”
***
 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(belum berjudul, mungkin:) Titik Pautan Nusantara